Install Theme

Your web-browser is very outdated, and as such, this website may not display properly. Please consider upgrading to a modern, faster and more secure browser. Click here to do so.

♥Full of Happines♥

Mizul^^ | Indonesia | JustinBieber | Boyfriend♥ | SuperJunior♥ | Infinite | U-Kiss
Feb 26 '12

#MiniFF

  • Soohyun: if you see 2 choices are confusing, what are you doing?
  • (you): it depends. what choice?
  • Soohyun: of love
  • (you): I choose what I love
  • Soohyun: Who do you like in the U-Kiss?
  • (you): You, and Kevin
  • Soohyun: Pick one!
  • (you): so what?
  • Soohyun: come on! choose me or her?! choose! choose!
  • (you): ulalaa ~ gak gak gak tau gak gak gak tau~ (?) *7icons's song* *ignored* *lol
Feb 26 '12
Feb 26 '12
Feb 26 '12

(Source: hellosarang)

Feb 26 '12
Feb 26 '12
Feb 26 '12

fyeahjoyoungmin:

120225 Youngmin at the airport.

cr: teukivonne via: @BoyfriendTH.

(Source: fuckyeahjoyoungmin)

Feb 26 '12

Saranghae♥ | Ch. 3

annyeong-haseyo”, sapa Teuk kepada Yeowang yang tak sengaja bertemu di depan Toko Buku Booikey pada Minggu pagi.

          “Annyeong-haseyo…”, balas Yeowang

          “Lagi apa kau disini?”, Tanya Teuk sambil menaiki sepeda silvernya.

          “Eh? Aku… Mau pulang”, ucap Yeowang merapikan poninya

          “Oh”, singkat Teuk mulai menggowes sepedanya perlahan mendahului Yeowang. Yeowang berjalan maju, Teuk menghentikan sepedanya.

          “Kenapa lagi?”, Tanya Yeowang

          “Ha? Gak. Kau ikut drama musical?”, Tanya Teuk

          “Drama musical? Ikut, kenapa?”

          “Benar?”

          “Iya. Emang kau juga ikut, Teuk?”

          “Hm”, balas Teuk singkat.

          “Kenapa?”, Tanya Yeowang lagi

          “Apa kau yakin bisa mendapatkan peran dalam drama itu?”, Teuk bertanya balik dengan nada yang agak jutek

          “Ha? Aku sudah niat, pasti yakin!”,

          “Diragukan”

          “Apa maksudmu?”

          “Murid di academy MCB ini banyak, hampir sebagian orang mendaftar. Dan sebagian dari mereka adalah klub drama. Apa yakin kau akan mendapatkan peran disini?”, sinis Teuk sambil mengayuh pelan sepedanya

          “Jadi, maksudmu kau meragukanku? Sombong sekali kau, memangnya kau pasti terpilih?”, balas Yeowang

          “Hh. Aku? Aku tidak bilang pasti terpilih kan”

          “Ah, sudahlah. Kita lihat saja nanti!”, seru Yeowang mendorong bahu Teuk pelan. Sepedanya hampir menabrak ibu-ibu yang sedang membawa sayuran disebelah kirinya itu.

          “Taruhan”, tantang Teuk

          “Hah?”,

          “Gimana? Berani tidak?”

          “Berani saja. Kalau aku terpilih, kau harus minta maaf padaku dan mentraktirku!”, ucap Yeowang lantang

          “Dan jika aku yang berhasil terpilih, sebaliknya!”, ucap Teuk

          “Oke!”,

          “Baiklah”, Teuk langsung mengayuh sepedanya cepat menuju rumah, sudah hampir pukul 8 tepat. Ia ingat janji dengan Mamanya.

          “Ah, Teuk… Aku jadi gak yakin akan terpilih setelah mendengar kata-katanya…”, batin Yeowang

###

          CKREK. Teuk menaruh sepedanya digarasi. Lalu ia masuk.

          “Teuk? Bagaimana sekarang jadi?”, Tanya Mama yang kebetulan ada didepan

          “Iya, jadi…”, ucap Teuk

          “Yasudah, ayok berangkat sekarang”, ucap Mama masuk kedalam mobil. Kali ini Teuk yang menyetir.

          “Ng, Ma…”, sahut Teuk diperjalanan

          “Ya?”

          “Tuan Teosag itu seperti apa orangnya?”, Tanya Teuk

          “Eh? Teosag? Mmm…”, “Dia baik, penyabar, pemaaf, dan pintar. Tetapi jika dia sedang serius, jangan coba membuatnya kesal, dia bisa marah…”, jawab Mama

          Teuk mengangguk sambil terus melihat kejalanan

          “Jika kau bertemu dengannya, dia pasti akan menyambutmu senang hati…”, lanjut Mama

          “Ng? Memang kenapa?”, Tanya Teuk setengah menengok

          Ny. Kisawa (Teuk’s Mom) menunduk. Wajahnya agak murung. Teuk menoleh kearah Mamanya yang duduk dikursi depan

          “Ma?”, panggil Teuk pelan.

          “Eh ya?”, Ny. Kisawa mengangkat kepalanya. “Ada apa?”, Tanya Teuk lagi.

          “Tidak…,pokoknya kau akan diperlakukan sangat baik olehnya”, jawab Ny. Kisawa tanpa menengok kearah Teuk yang masih memperhatikannya

          Teuk mengangkat kepalanya, ia kembali memperhatikan jalan.

###

          “Ini tempatnya?”, Tanya Teuk sesampainya. Ia menyapu pandang tempat yang besar itu. Seperti rumah mewah dan mungkin memang rumah

          “Iya… Kau masuk saja. Tekan belnya, dan bilang kalau kau adalah Oetteuki”, jelas Mama menyenderkan tubuhnya ke kursi

          “Iya…”, Teuk membuka pintu mobil.

          “Ng, Mama gak ikut keluar?”, lanjutnya

          “Enggak. Kau saja yang masuk…”, ucap Mama sambil tersenyum simpul

          “Oh, yaudah”, Teuk segera keluar dan mengambil tas gitarnya yang ia taruh dibelakang. Lalu ia segera berjalan menuju pintu rumah itu

          Dari dalam mobil, Ny. Kisawa memperhatikan anaknya yang sedang berjalan menuju pintu depan. ‘Kau akan mengetahui alasannya sendiri’, batin Ny. Kisawa yang sudah membendung air mata.

###

          TEETT. Teuk menekan bel.

          “Siapa?”, Tanya suara dari suatu kotak suara

          “Oetteuki”, jawab Teuk

Pintupun langsung terbuka otomatis. Dalam rumah itu mulai terlihat. Lorong-lorong ruang tamu ia masuki sambil memperhatikan sekelilingnya. Rumah yang sangat besar, penuh barang-barang berharga. Penuh dengan warna putih dan emas. Desain interior yang sungguh unik dan bagus menurut Teuk.

          Ia dihadapkan dengan pintu yang sangat besar. Teuk terdiam. Lalu pintu itu terbuka otomatis.

          “Annyeong, Oetteuki… Silahkan masuk”, ucap suara dari dalam ruangan itu. Teuk memasuki ruangan yang hebat itu.

          “Aku sudah menunggumu,Nak…”, ucap orang yang sedang duduk disamping gitarnya itu

          “Hh?”, Teuk masih terdiam

          “Silahkan duduk”,

          “Aku Teosag, kurasa kau sudah mengenalku”, lanjutnya

          “Ya. Ibuku sudah memberitahu soal mu Tuan Teosag…”, balas Teuk

          “Ibumu? Yaya. Bagus itu. Panggil saja aku dengan nama pendekku, ‘Theo’”, ucapnya

          “Baik. Tuan… Theo”, ucap Teuk. Teuk memperhatikan Tuan Theo. Kelihatannya ia masih muda, dan sepertinya Teuk mengenalnya walau sebenarnya sama sekali tidak tahu.

          “Kau…Seorang gitaris yang sangat berbakat, kemampuan vokalmu juga bagus. Kau memang anak emas, Teuk. Seorang gitaris bersuara emas. Bila bakatmu ini terus kau asah, saat dewasa nanti aku yakin kau bisa menjadi orang hebat”, ucap Tuan Theo.

          “Terimakasih. Aku harap juga begitu”, ucap Teuk

          Lalu pelayan masuk membawakan minuman dan sajian dan meletakkannya didepan Teuk.

          “Hh. Gomawo”, ucap Teuk tersenyum kecil. Pelayan itu menunduk member hormat lalu pergi.

          “Silahkan, cicipi hidangannya dulu supaya kau relaks”, tawar Tuan Theo.

          “Nanti saja…”, balas Teuk sopan

          “Kau memang anak yang sopan, Teuk. Aku yakin, sifat sopanmu dan bakat vokalmuitu diturunkan dari ibumu, Kisawa”, ucap Tuan Theo

          “Eh? Darimana kau tahu nama ibuku?”, Tanya Teuk

          “Aku tahu. Sedangkan sifat dinginmu juga bakat memainkan gitar itu dari ayahmu…”, lanjutnya

          “Kau bisa membaca pikiran?”,

          “Haha”, Tuan Theo tertawa kecil. Lalu ia menggeleng.

          “Lalu? Darimana kau tahu semua ini?”

          “Tapi… Aku tidak mempunyai seorang ayah”, lanjut Teuk pelan

          Tuan Theo mengangkat kepalanya sedikit, menarik nafas panjang. “Benarkah?”, tanyanya

          “Ya”, jawab Teuk singkat

          “Kemana Ayahmu?”

          Teuk terdiam sejenak. “Tidak tahu. Seingatku, aku dilatih bermain gitar dengannya saat aku berumur 5-7tahun, lalu ia bilang bahwa ia harus pergi entah kemana. Ibuku juga tidak menceritakan soal Ayah lagi”, terang teuk

          “Hmm… Kau pasti akan bertemu dengannya lagi suatu saat”, ucap Tuan Theo

          “Benarkah?”, Teuk mengangkat alis kanannya

          “Ya. Percayalah. Suatu saat…”, ucap Tuan Theo. Teuk mengangguk kecil.

###

          Teuk kembali kedalam mobil. Ny. Kisawa sedang memainkan handphonenya.

          “Bagaimana, Nak?”, Tanya Ny. Kisawa

          “Dia mengetahui segalanya”, jawab Teuk. Ny. Kisawa hanya tersenyum kecil. “Lalu?”, tanyanya lagi.

          “Kami sedikit bercerita dan aku mendapat pencerahan darinya”, ucap Teuk sambil menyalakan mesin mobilnya

          “Bagaimana musiknya?”,

          “Aku mendapat pelajaran dasar. Dan aku belajar memainkan lagu-lagu Pop dengan gitarku”, jawab Teuk.

          “Bagus… Apa kau ingin meneruskannya?”, tawar Mama

          “Ya… Tapi…”, Teuk sedikit menunduk, mengingat pembicaraannya dengan Tuan Theo tadi.

          “Ada apa?”

          “Apa Mama memberitahu segalanya tentang aku kepada Tuan Theo?”, Tanya Teuk menengok kearah Mamanya

          Mamanya menunduk, lalu menggeleng kepalanya perlahan. “Tidak, Teuk…”, jawabnya lemas

          “Lalu, darimana ia tahu?”,

          Mamanya hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan Teuk. Teuk merasa ada yang aneh dari semua ini. Tapi…Mungkin tidak ada kaitannya. Mungkin memang Mamanya sedang tidak ingin berbicara.

###

          Sesampainya dirumah, Teuk segera masuk kekamarnya dengan gitar kesayangannya.

          Lalu ia membuka buku yang berisi lagu-lagu Pop juga kunci gitarnya. Ia mencoba satu lagu yang mudah dulu. Ia terus berlatih sampai ia bisa baru meneruskannya ke lagu lain yang levelnya lebih tinggi.

          Setelah cukup latihan, ia menaruh kembil gitarnya. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamarnya.

          Terbayang wajah Tuan Theo, guru musiknya yang sepertinya ia kenal. Ia mash bertanya-tanya, soal info-info yang Tuan Theo ketahui.

          Lalu ia menatap foto yang terpasang di dinding kamarnya. Saat ia sedang memainkan gitar bersama Ayahnya dulu. Ia mencoba mengingat kenangan yang ia lalui bersama Ayahnya. Bertemu dengan Tuan Theo, sangat memancing Teuk untuk membuka kembali memori-memori bersama Ayahnya. Melihat wajah Tuan Theo, seperti melihat wajah Ayahnya.

          Teuk tidak tahu, sekarang dimana Ayahnya, sedang apa dia, dan apa kabanya. Ia mencoba memikirkan cara untuk dapat bertemu kembali dengan Ayahnya, seperti yang diucapkan oleh tuan Theo.

          Tanpa sadar, Teuk meneteskan air matanya. Satu kenangan yang selalu ia ingat setiap kali ia menetikkan air mata, saat Ayahnya mengelap airmatanya dan menghiburnya agar tidak bersedih lagi. Ingin rasanya ia kembali hidup dengan Ayahnya. Rasa kangen yang Teuk tamping sekarang sangatlah besar.

          Teuk sering berfikir, kenapa Ibu dan adiknya, Himawa jarang sekali terlihat merindukan sosok Ayah. Bahkan kalau dilihat setiap harinya, Himawa yang selalu ceria dan jarang sekali bersedih itu seperti tidak mengenal ataupun mengetahui Ayahnya. Apakah Ibu dan adiknya tidak mempunyai rasa kangen seperti yang ia rasakan ini? Mungkin Ibu pernah, tanpa Teuk ketahui.

          Sekarang, ia hanya bisa melihat sosok Ayahnya dalam foto-foto. Hanya dapat berdo’a kepada Tuhan, agar Ayahnya baik-baik saja ditempatnya. Juga, agar ia dapat bertemu kembali kapanpun, dan dimanapun sebelum ia meninggalkan dunia ini. Itulah harapan terbesarnya.

###

          DREETT…DRETT…

Handphone Teuk bergetar. Satu panggilan dari Cheon. Karena keadaannya sedang begini, Teuk memilih untuk mengalihkan panggilan. Ia sedang tidak mau berbicara kepada siapapun.

####

          “Ingat, Teuk… Ayah berharap besar nanti, kau bisa menjadi seorang gitaris hebat. Sampai mempunyai band besarpun Ayah sangat bangga! Gunakan waktu mudamu untuk mengejar ilmu dan menggali bakatmu agar dewasa nanti kau bisa menjadi orang berguna dan dibanggakan. Jika suatu saat Ayah harus pergi, jangan sesalkan itu. Karena kemanapun Ayah pegi, pasti Ayah akan tetap berada dihatimu, selalu mengawasimu.

          Jika kau punya suatu masalah, cobalah selesaikan dengan baik-baik, jangan dengan kekeraan dan jangan jadi anak cengeng. Kau harus jadi laki-laki yang sebenarnya. Jangan mudah terpengaruh dengan situasi luar yang tidak baik, jadilah dirimu sendiri. Jangan bangga menjadi diri oranglain”, terang Ayah saat Teuk gagal menguasai permainan gitar yang diajari Ayahnya saat itu.

          “Sayangi keluargamu, jaga mereka. Kau laki-laki kedua dikeluarga ini setelah Ayah. Dan jika tidak Ayah, tanggung jawabmu untuk menjaga Ibu dan adikmu nanti”, tambahnya lagi sambil mengelus rambut Teuk yang pada saat itu berumur 6 tahun.

###

          Ya, itulah kisah dan ucapan Ayahnya yang masih Teuk ingat sampai sekarang. Ia mencoba menjadi apa yang diinginkan oleh keluarganya, seperti ucapan Ayahnya.

          Teuk mengelap airmatanya yang sudah membahasahi pipinya itu. Ia menarik nafas panjang dan menenangkan diri. Sekarang saatnya dia menggali potensinya lebih lagi, agar mimpinya terwujud, “menjadi gitaris hebat dan mempunyai band besar”, juga “membanggakan keluarganya”.

 

 

 

 

Yep, Part #3 selesai guys~ Wdyt sampai saat ini? Butuh banget kritik dan saran kalian biar ceritanya lebih bagus. Jadi, yang udah ngasih komentar kamsahamnida yaa~~

See u Part #4!! Papayy:*

Feb 26 '12

My activities recently:

  • Downloading images
  •  Listen to music
  •  Create a fanfic
  •  Tumblogging
  •  Blogging
  • Facebook
  • Tweeting
  •  Opening GoKpop! News
  •  Offline
  • And repeat this activity again :p Ohyaa~
Feb 25 '12
Feb 25 '12
Yeapp♥

Yeapp♥

Feb 25 '12

Listen!

  • H: Listen!
  • Y: What's up?
  • H: Ssstt, keep silent! You will hear that!
  • Y: Hh? *silent*
  • H: Came near! And listen!
  • Y: What?
  • H: My heart beat faster when on your side
  • Y: Ooh, yeahh! *bighug*
1 note Tags: LOL
Feb 25 '12